Senin, 29 Januari 2018

Menabung Rindu Untuk Kota Mekah dan Madinah

Pic by: Abby Onety

Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu, aku ini hamba-Mu anak hamba-Mu yang lelaki dan anak hamba-Mu yang perempuan.  Engkau telah membawa aku di dalam hal yang engkau sendiri memudahkan untukku sehingga engkau jalankan aku ke negerimu dan engkau telah menyampaikan aku dengan nikmat-Mu juga, sehingga engkau menolong aku untuk menunaikan ibadah.  Jika tidak, maka tuntaskan sekarang sebelum aku jauh dari rumah-Mu ini.  Sekarang sudah waktunya aku pulang.  Jika engkau ijinkan aku dengan tidak menukar sesuatu dengan engkau (Dzat-Mu) ataupun rumah-Mu tidak benci pada-Mu dan tidak juga benci pada rumah-Mu

Mekah dan Madinah!,  itulah jawaban saya jika ada yang bertanya tentang kota atau tempat istimewa yang selalu ingin ku-kunjungi.  Mekah dan Madinah adalah kota yang paling istimewa diantara semua kota atau tempat yang pernah saya jejaki.  Kenapa saya begitu keukeh ingin selalu kembali ketempat istimewa ini? yuuk... simak kisah perjalanan saya berikut ini yaa..
 
Pic by: Abby Onety

Berjalanlah agar lebih banyak tahu apa yang terjadi diluar sana.  Buktikan sendiri, benar tidaknya apa yang dikatakan orang.   Berjalanlah untuk mengerti hidup yang lebih bijaksana, seperti kata bijak, “dunia itu seluas langkah kaki, jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.   Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya”.

Sebuah perjalanan akan mengukir berjuta cerita, menyisakan kepingan kenangan pada setiap destinasi.  Lalu, suatu hari kelak, kepingan kenangan itu akan menjadi sejarah hidup yang tak bisa tergantikan oleh apapun juga.   Seperti perjalanan religi  yang saya lakukan di bulan Desember 2017 kemarin,  itu adalah sebuah perjalanan yang teramat sangat sangat indah, Masya Allah, ada kebahagian tak terkira yang tak mampu kuukir dengan kata-kata (saya bahagia).  
Perjalanan ini, membuka mata dan hati saya tentang kehidupan dunia, bagaiamana seharusnya manusia bertindak dalam hubungannya manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhannya. 
 
Pic by: Abby Onety
Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya, begitu istimewa.  Saya banyak mendapat support dari keluarga, teman, dan sahabat.  Berangkat ke bandara, saya diantar 6 mobil (Wow banget kan yaak... hahahaa).   Awalnya saya protes dan tidak mau diantar,  maunya seperti proses berangkat saya sebelum-sebelumnya saat melakukan traveling ke tempat-tempat yang berbeda.  Tapi semua balik protes ke saya, karena ini adalah perjalanan ibadah, perjalanan religi, perjalanan yang menuai banyak keberkahan sehingga banyak yang turut bersyukur dan merasakan kebahagiaan,  “begitu katanya”.

Masya Allah, perjalanan ini begitu indah.  Bagaimana tidak, mulai dari persiapan hingga menginjakkan kaki di King Abdul Aziz Airport, alhamdulillah semua dimudahkan.  Proses keberangkatan pun dimajukan dari jadwal yang sebenarnya.  Sebelumnya saya dijadwalkan oleh pihak travel berangkat pada bulan Februari 2018,  tetapi tiba-tiba saja dimajukan ke bulan Desember 2017.  Alhamdulillah.......

Teringat sujud pertamaku di Mesjid Nabawi, dengan segala kepasrahan diri di bawah linangan airmata, terucap syukur karena telah diberikan kesempatan menginjakkan kaki di kota tempat Hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW.  Sebuah anugerah yang luar biasa bisa bertamu di rumah dan ziarah ke makam Nabi.  I’ve got a new power yang terpatri dalam jiwa dan ragaku, setelah bersujud di hadapan makam Rasulullah. 
 
Pic by: Abby Onety
Datang dan pergi, adalah suatu fenomena kehidupan yang diyakini pasti terjadi.  Ada yang datang lalu pergi.  Seperti saat ini, tinggal hitungan jam, saya akan meninggalkan tanah haram Mekah.

Kalimat pembuka tulisan diatas, adalah doa berpamitan di depan Ka’bah.  Tidak bisa kupungkiri akan kesedihan ini saat membaca doa setelah Thawaf Wada’ di Mesjidil Haram.  Kesedihan ini merasuk dalam jiwaku hingga tak terasa butiran bening mulai mengalir dipelupuk mata.  Isak tangis pun tak bisa kuredam, pecah diantara lantunan puja puji akan kebesaran Allah SWT dari orang-orang muslim yang datang dari berbagai belahan bumi.  Rasanya tak mampu meninggalkan kota Mekah saat itu.  Saya kembali berbalik arah, menatap Ka’bah sambil berucap,” I Love You, ALLAH, suatu hari kelak, saya akan kembali ke tempat-Mu yang suci ini”.  Aamiin.... Ya Rabbal Alamin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN

18 komentar:

  1. Semoga saya dan suami. Bisa segera ke sana juga. Aaaminnn. Smga dilapangkan rezeki kita buat ke sana ya, Bunnn ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... saya bantu doa ya bun...

      Hapus
  2. Alhamdulillah ya kak.. Apalagmh arti traveling keliling dunia, kalo belum ke Tanah Suci.
    Semoga rencana keberangkatanku bulan depan bisa lancar tanpa halangan lagi. Aamiiin ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dilancarkan perjalanannya bulan depan ya dek say

      Hapus
  3. Semoga dimudahkan dan dilancarkan untuk bisa kembali lagi ke Tanah Suci ya Mbak ..Aamiin:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Ya Allah. Makasih doanya mba

      Hapus
  4. subhanallah jadi pingin kesana nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kudoakan semoga secepatnya bisa ke tanah haram mba

      Hapus
  5. Subhallah pengalaman indah ya mba.. mdh2n saya dan keluarga diberi kesempatan untuk pergi kesana..

    BalasHapus
  6. Tempat yang paling di rindukan oleh setiap umat muslim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali. selalu ingin dan ingiiin ke sana lagi

      Hapus
  7. subhanallah.. semoga bisa menyusul ke Rumah Allah secepatnya

    BalasHapus
  8. Subhanallah...
    Semoga bisa menyusul

    BalasHapus
  9. Merinding bacanya.. Insya allah kalo g ada halangan, november 2018 aku jg berangkat umroh. Pgn sekali melihat ka'bah dr dekat mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mba, kudoakan secepatnya bisa ke tanah haram ini. aduh...mba, saat saya peluk ka'bah, ada rasa yang sulit saya gambarkan. hanya air mata yang terus meleleh

      Hapus