Kamis, 12 Februari 2015

Merangkai Kata Hingga Jantung Tak Lagi Berkembang-Kempis



Keberhasilan hidup seseorang bukan datang begitu saja tanpa ikhtiar dan doa.  Manusia di bekali akal dan pikiran agar mampu mendesain sendiri rencana kehidupannya.  Termasuk mendesain beragam cara untuk melanjutkan hidupnya dengan memanfaatkan potensi diri yang dimilikinya.  Soal kesuksesan dalam hidup ini, semua orang punya kesempatan yang sama.  Hanya saja dibutuhkan skill untuk terus mengasah potensi diri dan memanfaatkannya pada setiap segmen kehidupan.

Tak ada kesuksesan yang dibayar murah.  Kalimat bijak ini sering kita dengar manakala akan memotivasi diri sendiri maupun orang lain untuk tetap bertahan dan selalu ikhtiar dalam menggeluti profesi masing-masing.  Baik yang telah lama dilakoninya maupun untuk menggeluti dunia baru atau profesi baru dalam kehidupannya.  Disaat seseorang terpuruk dalam profesi yang digelutinya maupun dalam kehidupan pribadinya kalimat ini bisa memotivasi untuk segera mengembangkan potensi diri yang dimilikinya dalam meniti karir termasuk karir dalam dunia kepenulisan.

Banyak orang yang jatuh dalam profesi menulis dengan beragam alasan. Ada yang menekuninya sebagai satu-satunya profesi ada juga yang menekuninya sebagai profesi tambahan yang hanya sekedar menyalurkan hobby. 

Suatu ketika saya berpikir untuk menyisihkan sebagian  waktu di sela-sela kesibukanku sebagai generasi Umar Bakri untuk mulai belajar merangkai kata hingga tercipta sebait kalimat dalam memulai sebuah tulisan.  Walau  pada akhirnya pikiran itu mengharuskanku berdiam diri duduk terpaku dalam rentang waktu kurang lebih 30 menit di depan laptop.  Jari-jariku terasa kaku dengan posisi siap mematok huruf demi huruf hingga terbentuk sebuah tulisan, tapi nyatanya tak satupun huruf yang tertekan ke layar laptop.  Saya semakin kehilangan ide untuk menulis.  Pada hal sebelum duduk di depan laptop, ada banyak ide di kepala saya untuk di komunikasikan dalam sebuah cerita.   Melihat dan membaca tulisan orang lain rasanya kok mudah saja dan kelihatan gampang untuk menuliskannya. Tapi….. nyatanya tidak seperti yang saya pikirkan.

Saya mulai gelisah, ada apa denganku? Bukankah sebuah keputusan itu harus dipertanggungjawabkan? Ataukah memang saya tak punya bakat dalam menulis?.  Akh… tidak!.  Keputusan sudah kuambil dan sekarang sudah di depan layar laptop.  Gak kebayang malunya saya seandainya laptop ini bisa bicara dan tertawa, mungkin laptop ini akan ngakak melihatku harus menyerah dan berdiri lalu melangkah pergi tanpa satupun baris kalimat yang kutinggalkan di layar laptop. Tiba-tiba saya teringat kalimat seorang teman yang mengatakan bahwa, “menulis itu bukan bakat tetapi skill yang harus selalu di asah”.  Jika berkomitmen menjadi seorang penulis maka intinya hanya satu yaitu, menulis, menulis dan menulis.

Akhirnya saya mulai menulis dengan segala keterbatasan dalam tata kepenulisan tanpa memperhatikan EYD.    Komentar positif dan negative dari pembaca tulisan saya menjadi motivasi sekaligus sebagai ajang introspeksi diri atau cerminan evaluasi diri baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam perbaikan tulisan-tulisan saya selanjutnya.  Saya meyakini bahwa menulis itu adalah sebuah kekuatan yang terpendam yang harus di aktualisasikan dalam wujud sebuah tulisan untuk berbagi manfaat kepada banyak orang.  Mampu mengembangkan ide-ide positif mungkin saja bisa menginspirasi banyak orang. Alhamdulillah. 

Setiap hari kita berinteraksi dengan banyak orang.  Kadang-kadang kita terbentur pada satu masalah kehidupan dan membutuhkan seseorang untuk bicara namun tak menemukan orang yang tepat.  Berbicara secara lisan kepada seseorang belum tentu orang akan menyerap semua yang kita ucapkan.  Selain itu, dengan lisan banyak orang yang tidak beruntung karena ketidakhadiran atau terlambat menyimak apa yang sedang di bicarakan.  Oleh karena itu,   menulis adalah solusi atau media yang paling tepat untuk berbagi manfaat kepada banyak orang karena seseorng akan membacanya di lain waktu. 

Kurangnnya minat guru dalam menekuni dunia kepenulisan memanggil nurani saya untuk menekuni dunia ini.  Selain itu, minat baca masyarakat yang semakin menurun menjadi satu masalah pokok yang harus di pecahkan.  Ide-ide brilliant dari sang penulis di perlukan untuk menciptakan sebuah tulisan yang  menarik dalam memotivasi masyarakat agar gemar membaca.  Semoga saya bisa menjadi salah satu orang yang memposisikan diri dan ambil bagian dalam meningkatkan minat dan gemar membaca bagi masyarakat luas melalui tulisan-tulisan yang sensasional dan menarik perhatian orang untuk segera membaca. Amin.

Berani berkomitmen berani menerima resiko.  Untuk itu, cemohan, hinaan tentang tulisan kita, anggaplah sebagai energy positif  untuk membangun kekuatan dalam tulisan selanjutnya.  Pantang menyerah adalah suatu keputusan bijak untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun dalam mempertahankan karir menulis. 

Saya  menyadari untuk mencapai semua ini tidaklah mudah.  Butuh ikhtiar yang panjang di barengi dengan doa yang tiada putus.  Karena saya percaya pada kekuatan “Man Jadda Wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil”.  Kalimat A. Fuadi ini dalam bukunya yang berjudul “ Negeri 5 Menara” sangat menginspirasi banyak orang termasuk diriku.  Untuk itu, saya harus terus belajar menulis dan menulis dalam mengasah keterampilan menulis. 

Sepanjang perjalanan waktu saya semakin jatuh cinta pada dunia kepenulisan. Kecintaan itu makin berakar dalam jiwaku hingga setiap kata yang kurangkai mengalir bersama urat nadi kehidupanku. Dan tekad itu akan tetap utuh hingga jantungku berhenti berkembang-kempis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar