Selasa, 25 April 2017

Saigon Trip Mekong River


(Catatan Perjalanan Vietnam Edisi 4 ) Tamat
Oleh: Abby Onety

Tatapan mata itu tajam sekali, membuat hatiku selalu bergetar.  Rasanya tak mampu menggaransi pikiranku sendiri untuk tidak memikirkannya.  Jika harus jujur sejujur-jujurnya, saya tak mampu balik menatapnya sampai pada akhirnya saya harus lari dari kenyataan dengan mengambil langkah seribu, meninggalkannya terpana.  Bahkan di awal pagi ini, tatapan itu masih terbayang, larut diantara seruput kopi Vietnam yang masih tersisa setengah gelas lagi.   Aroma kopi Vietnam tak mengalahkan bayang mata itu. 

Kisah sepasang mata ini tercipta saat saya trip ke sungai Mekong.  Di hari ke 3 berada di Vietnam, saya memilih untuk ikut Tour Aamiin Travel karena Mekong trip memakan waktu seharian penuh.  Star pagi pukul 07.00 hingga pukul 18.00.  dengan merogoh kocek 320 VND atau sekitar RM 60 atau sekitar Rp. 200.000 sudah bisa ikut Tour Aamin Travel dengan fasilitas bus antar jemput, makan minum selama tour berlangsung, biaya motor booth, naik dokar, dan sewa perahu menyusuri sungai Mekong.  Pokoknya kita hanya bawa diri deh hehee.



Semalam tadi, sebelum tidur saya sudah titip pesan pada reseption hotel agar dibangunkan lebih awal.  Makanya pagi ini sebelum pukul 07.00 saya sudah duduk cantik di lobby hotel.  Tak lama kemudian Tuan Lee (Tour Guide) kami yang super ramah dan bersahabat ini datang menjemput dengan mini bus nya.  Rupanya saya adalah peserta pertama yang dijemput.  Setelah itu kami menuju hotel kedua, ketiga, dan keempat untuk menjemput peserta tour Sungai Mekong.

Perjalanan dari Saigon/Kota Ho Chi Minh menuju sungai Mekong di tempuh dengan 2 jam perjalanan menggunakan mini bus. Melintasi beberapa kampung dan sawah ke My Tho. Sepanjang perjalanan ada yang menarik perhatian saya, kok ada kuburan di tengah sawah? Rupanya kuburan yang saya lihat itu adalah kuburan pribadi orang-orang Vietnam yang berkasta tinggi karena tidak semua sawah ada kuburannya.  Alasan lainnya adalah agar sawah yang ada kuburannya itu agar tetap menjadi milik keluarga turun temurun.
Sepanjang perjalanan Tour guide kami Tuan Lee banyak bercerita seputar wilayah Ho Chi Minh termasuk daerah sekitar sungai Mekong.  Penduduk sungai Mekong 80% orang Vietnam dan 20% orang Kamboja.  Rata-rata orang Kamboja yang tinggal di pulau ini, datang pada pagi hari  dan pulang sore hari setelah urusan dagang selesai.  Mereka (orang Kamboja) datang hanya untuk berdagang atau mencari nafkah di wilayah Vietnam.   


Pulau yang di huni oleh suku Campa Kamboja merupakan komunitas muslim yang menjual aneka souvenir dan makanan ringan.   Untuk berkomunikasi dengan suku Campa, kami hanya menggunakan bahasa tubuh sebab mereka hanya bisa berbahasa suku Campa dan tidak mengerti inggris (dibaca; saya juga).  Saat berkomunikasi dengan orang Campa, ada tawa diantara kami para peserta tour yang jumlahnya 10 orang.  Jumlah yang sangat memungkinkan terjalinnya komunikasi yang akrab.  Disini kami ibarat seorang yang telah berkawan lama.  Inilah makna sebuah perjalanan, bisa bertemu dengan orang-orang yang baru yang tidak menutup kemungkinan pertemuan itu bisa berlanjut menjadi hubungan silaturahmi yang baik hingga menjadi teman, sahabat, bahkan seperti keluarga.
 
Pic by Norezam Rahmat
Salah seorang teman yang bertemu di perjalanan adalah Kak Maznah Kamis yang berasal dari Singapore.  Ho Chi Minh City adalah kota yang mempertemukan kami beberapa kali setelah trip Sungai Mekong berakhir.  Saat bertemu kedua kalinya di Ben Tanh Market kami berdua setengah berteriak sebagai ungkapan kebahagian bisa bertemu lagi.  Bukankah  ekspresi semacam ini menunjukkan bahwa sebuah perjalanan yang mempertemukan dua orang yang belum pernah bertemu sebelumnya bisa berlanjut menjalin sebuah pertemanan?.  Sekali lagi, ini makna sebuah perjalanan.
 
Foto kakak Maznah yang baik hati dan sangat mengayomi selama trip
Ditengah perjalanan mini bus berhenti untuk rehat sejenak di “Rest Stop”. Disini ada tempat shopping murah untuk belanja ole-ole.  Saya bandingkan harga beberapa produk di sini dengan harga di Saigon agak jauh berbeda. Disini harganya murah. Ada jual topi, baju, tas, dan beberapa pakaian khas vietnam.

Mengendarai motor booth ke kawasan Bent Tre.  Disisi kiri dan kanan bisa melihat pulau yang berbatasan dengan Laos, Kamboja, dan Myanmar.  Di pulau ini tersaji gula-gula coconut secara gratis dan melihat langsung proses pembuatan gula-gula tersebut oleh komunitas suku Campa Kamboja.  Ada banyak jualan kerajinan tangan terutama dari kayu dan batok kelapa. Saya tidak menyarankan membelinya disini karena agak mahal dibandingkan harga di Bent Than Market.  

Di pulau ini pula kita bakal berinteraksi dengan seekor ular phyton, kita bisa menggendongnya sambil selfie dengan ularnya.  Benar-benar menguji adrenalin.  Tapi saya tidak berani, saya hanya menatapnya, si ular phyton balik menatapku dan itu membuatku lari terbirit birit.  Tatapan mata inilah yang saya maksud di awal paragraf tulisan ini. (Hahahahaa.... penasaran kan???)#Yeaaahhh....  Jika saat ini saya hanya mampu berilustrasi tentang sepasang mata phyton, maka doakan saya semoga kelak bisa berilustrasi tentang sepasang mata ....bola wkwkwk (jujur...saat ngetik ini saya gemetar loh) #Eaaa


Perjalanan dilanjutkan menuju pasar tradisional di pulau itu.  Dalam perjalanan, kita bisa melihat anak-anak sekolah dengan pakaian tradisionalnya.  Bajunya panjang seperti baju kurung tetapi sempit melilit badannya dan bagian perut sedikit agak terbuka.  Mereka juga memakai topi dari daun kelapa sawit.  Mereka tersenyum ramah saat kami sapa.

Kini telah sampai ke pulau Unicon, di tempat ini kita bisa menikmati sajian madu asli langsung dari sarang lebahnya.  Kemudian menikmati aneka masakan halal asli khas Vietnam.  Di sini kami makan siang.  Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sholat dhuhur lebih dahulu bahkan sempat terlelap sekitar 15 menit di ayunan pulau Unicon samping mushollah.

Kembali menyusuri anak sungai Mekong dengan menggunakan sampan/perahu kecil untuk balik ke Saigon, tapi sebelumnya kami singgah dulu menikmati sajian aneka buah yang lagi-lagi grentongan dan di hibur oleh peyanyi lokal daerah.  Anehnya lagi, salah satu lagu yang dibawakan oleh penyanyi ini adalah lagu yang pernah populer di seluruh wilayah indonesia. Ada juga beberapa lagu Vietnam dengan lirik indonesia.  Mungkin lagu yang mereka sajikan di sesuaikan dengan negara asal tamu yang datang.


Satu hari menjelajah sungai Mekong dengan mengunjungi 4 pulau.  Lanjut dengan kereta kuda yang support wifi dengan password “kudakuhandsome” (hihihii...abaikan, justkid). Akhirnya selesai juga trip Sungai Mekong. Saatnya kembali ke Saigon (Kota Ho Chi Minh).

Keesokan harinya saya menempuh penerbangan dari Tan Son Nhat International Airport menuju Kuala Lumpur International Airport.  Memilih transit semalam di Bukit Bintang lalu besok pagi kembali melanjutkan penerbangan ke Hasanuddin International Airport. 
Kemanapun kaki melangkah, Makassar adalah tempatku akan kembali.
Vietnam; Someday i will come back J


@Tamat@

12 komentar:

  1. Aah.. kirain kak abby udah dapat tatapan sepasang mata bola dari yang punya bola... #eh 😂😂

    BalasHapus
  2. wih seperti sungai maron di pacitan bun hehehehehe

    BalasHapus
  3. Serunyaaa jalan-jalannya Kak Abby :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih seru lagi klo kita jalan bareng ya ndy 😊

      Hapus
  4. Ular phytonnya mo saya kak Abby. Asli kereeeen. Haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaa.. mau liat phyton juga ya

      Hapus
  5. Balasan
    1. Kayakx Lebih seru klo trip bersama rendik ya

      Hapus