Rabu, 29 Maret 2017

The Naked Traveler di Layar Lebar

pic by naked-traveler.com

Kalau Kita Benar-Benar Menginginkan Sesuatu, Pasti Ada Jalannya
.  Kalimat yang tercetak miring tebal-tebal ini adalah salah satu ungkapan hati Trinity dalam film layar lebar yang berjudul “The Nekad Traveler”.  Di film ini, Trinity benar-benar membuktikan mukjizat dari kalimat itu melalui kisah perjalanannya.  Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang telah diabadikannya dalam bentuk buku berseri dengan judul yang berbeda satu huruf saja pada film ini yaitu “The Naked Traveler”.  Yah, kisah perjalanan Trinity yang terkesan nekad dan mampu menghipnotis para pembacanya.


Film yang di garap oleh rumah produksi Trinity Production  yang  di bintangi oleh Maudy Ayunda (Trinity) dan Hamish Daud (Paul) ini melakukan shuting di 3 negara yaitu Filipina, Indonesia, dan Maldives.   Yang lebih mengesankan lagi adalah beberapa adegan dalam film ini dilakukan di beberapa tempat di seputar Makassar yakni Rammang-Rammang, Rotterdam, Coto Gagak, dan Wisma Jampea.


Teringat beberapa tahun lalu, saya sempat berjumpa dengan Trinity selama beberapa hari pada event MIWF (Makassar International Writers Festival) di Makassar dengan pusat kegiatan berada di Rotterdam.  Saat acara Meet Up berlangsung di Gramedia Panakkukang Mall, Trinity sempat membocorkan infomasi bahwa suatu hari kelak, buku The Naked Traveler akan diangkat ke layar lebar.  Ucapan ini langsung di sambut gembira dengan tepuk tangan dan harapan dari para penggemarnya.   Sejak itu pula saya tidak sabar dan selalu berharap agar proses pembuatan film ini di perlancar agar saya dan penggemar lain bisa segera menontonnya. 
 
Saat bertemu my inspirator Trinity di Makassar. (gelangx sama)
Nah, tanpa sengaja saat saya lagi asyik browsing internet sambil sesekali membuka wall fb,  terlihat salah seorang teman memposting rencana nonton bareng film The Nekad Traveler.  Saya terlonjak kaget dan bergumam dalam hati, “kok saya gak tau ya klo The Nekad Traveler telah main di bioskop?”.  “iih.. ketinggalan informasi saya”.    Tanpa pikir panjang, saya langsung membuat janji dengan diri sendiri kalau untuk nonton film yang satu ini, tidak boleh pakai di tunda-tunda.  Akhirnya keesokan harinya setelah mengikuti salah satu event di hotel Grand Clarion Makassar, saya dan beberapa teman blogger langsung meluncur menuju XXI TSM (Trans Studio Mall).

Trinity adalah seorang traveler nekad yang apapun akan di pertaruhkan untuk memenuhi hasrat dan keinginannya untuk jalan-jalan.  Resign dari tempat kerja bahkan menunda jodoh adalah salah satu bukti kenekatannya dari sekian banyak kenekatan (dibaca naked).  Butuh nyali yang besar untuk berdamai dengan kedua bentuk kenekatan ini.   Salah satunya adalah berani resign dari tempat kerja hanya karena ingin memenuhi hasrat dan keinginan menggapai cita dari sebuah hobbi jalan-jalan.  Satu lagi kenekatan Trinity yang paling fenomenal adalah jalan-jalan selama SETAHUN (wow.... kereeeennn mbaaakkk).

Kadang tubuh di sini hati di sana, kadang hati di sini tubuh entah di mana.  Seperti itulah gambaran perasaan seorang Trinity dalam film ini jika keinginan untuk traveling tidak bisa terlaksana karena pekerjaan kantor dan masa cuti yang telah habis.  Bekerja untuk ngupulin duit buat jalan-jalan adalah hal yang menjadi rutinitasnya setiap hari.  Tetapi baginya, kerja di kantor adalah hal yang paling membosankan.  Untuk itu dia selalu berharap suatu hari nanti bisa jalan-jalan sambil bekerja. 


Gayungpun bersambut, setelah resign dari tempat kerja dan fokus jalan-jalan sambil menuliskan kisah-kisah perjalanannya, mulailah muncul satu-satu tawaran kerjasama dan akhirnya semakin banyak tawaran yang datang padanya dalam bentuk tulisan traveling.  Kesan manis pahitnya perjalanan selama traveling dari daerah yang satu ke daerah yang lain atau dari negara yang satu ke negara yang lainnya tertuang dalam untaian kata yang lucu, romatis, bahkan nekad dan mengharukan melalui blog pribadinya naked-traveler.com.  Sampai akhirnya Trinity berhasil me-launching sebuah buku yang melambungkan popularitasnya yaitu buku ‘The Naked Traveler”.

Percaya bahwa kebaikan itu akan selalu datang kapanpun dan dimana pun kita berada menjadi alasan solo travelingnya.  Solo traveling dominan dia lakukan ketimbang jalan-jalan bareng bersama teman-temannya.  Menurutnya, di perjalanan kan bisa bertemu dengan orang banyak dan bersilaturami sehingga bisa menambah teman di perjalanan.  Atau bisa jadi di tengah perjalan bertemu dengan sesama traveler dan akhirnya jalan bersama.  Ini telah di buktikan sepanjang perjalanan solo travelingnya di film ini.

Selalu ada jalan untuk traveling selama ada niat, usaha dan doa.  Ini terbukti setelah Trinity menerima pesan email dari seseorang yang tak dikenalnya.  Mr X adalah orang yang menjadi sosok misterius hingga kini dan  Mr X itulah yang telah bersedia memfasilitasi perjalanannya sampai kepada sebuah destinasi yang telah lama di idamkannya dan hanya bisa mengendap pada bucket list destinasi yang akan dikunjunginya bernama MALDIVES.


Kemanapun Kaki Melangkah, Rumahku Indonesia.  Kalimat yang hadir diakhir film ini sungguh luar biasa.  Kecintaan terhadap tanah air tidak akan pernah pudar dengan segala bentuk keindahan yang disuguhkan oleh beberapa destinasi dari berbagai negara yang pernah dikunjunginya. 
Nonton bareng teman-teman blogger Makassar

14 komentar:

  1. Waaa, aku suka bukunya.

    Percaya dengan usaha untuk meraih keinginan eh cita-cita. Lalu kapan aku traveling lagi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayyoo mbaa... traveling lagi...

      Hapus
  2. Seruuu yaa filmnya, apalagi ada wajah Makassar di dalamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, sepertinya Trinity punya hubungan emosional dengan Makassar yaah (ahh... semoga). terbukti sudah beberapa kali berkujung ke Makassar. bennar kan Mbaa Trinity..???? #ngarep euuyy

      Hapus
  3. saya pernah baca bukunya.. dan cukup bikin iri.. di filmnya sama ya sama bukunya... pastinya dengan tambahan pemandangan alam indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya lengkap. Klo di film inj bbrp bagian cerita sepertinya di cut mba

      Hapus
  4. gang saya juga ke XXI waktu itu tp ga nobar ki di ahahaha beda film, keren tawwa ini saya akhirnya nonton hhihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Qiah... knp ndk skalian nonton bareng ya kita waktu itu

      Hapus
  5. Saya udah baca bukunya, penasaran deh sama Filmnya

    BalasHapus
  6. saya malah salah fokus sama kak aby yg dlu gak pake hijab kok brasa kurasan yah? apa prasaan aku ajah? hehe : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaahh.... skh mah nambah bobotnya yun...

      Hapus