Kamis, 22 Desember 2016

Ibuku.... Selamat Hari Ibu

Ibuku....

Suatu sore saya bercakap dengan seorang ibu tangguh. Saya katakan tangguh, karena bisa membesarkan dan mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses. Ibu itu sangat senang berbagi pengalaman menceritakan bagaimana caranya mendidik dan menaruh pengharapan kepada anak-anaknya yang sedang menapaki kariernya sesuai keahliannya masing-masing.



Ibu itu sangat sederhana pemikirannya dalam mendidik anak-anaknya tetapi efeknya sangat luar biasa dalam menata masa depan. Tidak muluk-muluk menaruh pengharapan kepada anak-anaknya untuk menjadi orang sukses. Tidak pernah menitipkan pengharapannya kepada anak-anaknya supaya menjadi dokter, insinyur, pengusaha, atau presiden, sebagaimana ibu-ibu pada umumnya.

Ibu itu hanya menitipkan satu kalimat pengharapan kepada anak-anaknya ketika masih dalam tahap pertumbuhan. Katanya, “Wahai anakku! Kalau ingin melihat ibu dan bapak bahagia dunia dan akherat, maka hanya satu permintaan ibu, yaitu ketika engkau mendengarkan suara azan di masjid, mohon segera hentikan seluruh aktivitas duniamu untuk bergegas bersujud ke kehadapan Tuhanmu.”

Hanya itulah yang bisa mendamaikan jiwa dan membahagiakan hati ibu dan bapak. Hanya itulah yang bisa membuat ibu dan bapak tersenyum dan ihlas meninggalkan dunia yang fana ini. Subahanallah, pengharapan seorang ibu yang maknanya bisa menggetarkan dunia bersama seluruh isinya. Nasehat seorang ibu yang mengandung energi tak terkalahkan untuk menyeret dan menaruh dunia dibawah talapak kaki anaknya. Pengharapan mulia orang tua sebagaimana Firman Allah : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. (QS. Ibrahim : 40)

Cerita ibu itu membuatku bisu, seluruh pancaindraku terasa beku. Sesaat seperti terhipnotis sehingga tidak ada yang bisa kulakukan selain hanya memutar memoriku berjalan setapak demi setapak ke belakang merenungi begitu banyak kesalahan yang dilakukan para orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Betapa keluarga modern sekarang disibukkan urusan kursus anak-anak untuk mendalami ilmu pengetahuan berbasis duniawi, saat bersamaan sadar atau tidak sadar melalaikan kewajibannya mengajarkan apalagi memaksa anak-anaknya bersujud ke hadapan Tuhannya.

Semakin lama aku membisu semakin kutemukan jawaban pembenar kenapa ibu tersebut lebih menitik beratkan anak-anaknya bersujud di hadapan Tuhan daripada mengkontruksi pikiran anak-anaknya menjadi dokter, pengusaha, jendral, atau presiden sekalipun. Faktanya tidak sedikit orang sukses diposisinya masing-masing tetapi moralnya rusak, selingkuh dan korupsi uang negara.

Dengan membiasakan anak-anak bersujud ke Tuhan, dia akan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi berdisiplin tinggi dengan komunikasi yang santun, dan perilaku sopan. Sehingga ketika menjadi dokter, dia aka menjadi dokter yang mendahulukuan pendekatan sosialnya dalam mengobati pasien. Ketika menjadi pengusaha, dia akan menjadi pengusaha sukses yang peduli sesama. Ketika menjadi jenderal, dia akan menjadi jenderal yang bermoral dengan integritas tinggi. Ketika menjadi presiden, dia akan menjadi presiden yang amanah.

Kalau saja semua ibu Indonesia melakukan hal yang sama mendidik anak-anaknya dari kecil untuk meninggalkan segala urusan dunianya ketika mendengarkan suara azam di masjid untuk bersujud ke Tuhannya, maka setiap orang tua tidak perlu gelisah melepaskan anak-anaknya pergi menuntut ilmu ke kota besar. Orang tua tidak perlu risau melepas anak-anaknya merantau ke ujung dunia sekalipun, karena Tuhan akan selalu bersama anak-anaknya.

Berikut ayat dan hadits Nabi yang menunjukkan   pengharapan seorang ayah dan ibu yang dimuliakan oleh Allah. (Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, juka ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan surulah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu,  sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman : 16-17). Ibunda Sulaiman bin Dawud berpesan kepada putra-putranya, “Wahai anakku, janganlah banyak tidur malam hari. Sebab, banyak tidur pada malam hari dapat menyebabkan seorang miskin pada hari kiamat. (HR. Jabir bin Abdullah).

Jadi kepada seluruh ibu yang membaca tulisan ini, mari meroba cara berpikir kita dalam membesarkan dan mendidik anak-anak. Berilah bekal sejak kecil dalam mengarungi samudra kehidupan yang teramat luas membentang di hadapan mereka. Begitu banyak gelombang kehidupan yang akan dilewati sehingga membutuhkan pelampung untuk bisa selamat menghadapi badai tsunami kehidupan. Anak-anak itu terlahir suci laksana kertas putih tanpa noda, sehingga perjalanannya ke depan tergantung bagaimana orang tua melukisnya dari awal. Lukislah jiwanya dengan kalimat Allah, dan tanamilah buah dzikir di taman-taman hatinya.

10 komentar: