Rabu, 23 November 2016

Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

Rohana Kudus (Sumber foto: www.google.co.id)

Sepuluh November yang di peringati sebagai hari pahlawan mengingatkan saya tentang beberapa pahlawan perempuan yang tersebar di seluruh nusantara.  Kali ini yang lebih memikat hati dan pikiran saya adalah salah seorang wanita luar biasa yang berasal dari pulau Sumatera tepatnya di Sumatera Barat.  Kenapa? Karena beliau adalah sosok seorang perempuan yang berani mengakses dirinya yang hidup pada zaman R.A Kartini  di mana pada masa itu akses pendidikan masih sangat terbatas untuk perempuan.  Tetapi beliau telah menjadi seorang wanita pertama yang berjuang menjadi jurnalis dan pada akhirnya berhasil  mendirikan surat kabar pertama di Indonesia pada masanya. 

Selain menjadi jurnalis, Rohana pun menjadi seorang pendidik (guru) di kampung halamannya.  “Roehana School” adalah nama sekolah yang berhasil dibangunnya.  Dalam  usia yang masih sangat muda, dia telah menjadi seorang guru yang mengajarkan baca tulis kepada perempuan-perempuan lain di kampungnya.  Rohana sendiri belajar baca tulis dari beberapa majalah yang berbahasa Belanda.  Majalah-majalah itu dia dapatkan dari bapaknya setelah pulang kantor.  Dia juga mendapatkan majalah-majalah yang berbahasa Belanda itu dari tetangganya, istri dari orang Belanda.  Selain itu, Rohana juga diajarkan beberapa keterampilan perempuan misalnya; menjahit, menyulam, dan merenda. 

Tidak banyak yang mengetahui sosok seorang Rahona Kuddus, tidak se-familiar Kartini, tetapi jasa-jasanya dalam bidang jurnalistik menjadi sejarah sekaligus kebanggaan bagi perempuan Indonesia pada khususnya dan bagi bangsa Indonesia pada umumnya.  Beliau telah mengharumkan nama perempuan Indonesia yang pada masanya berjuang untuk mengangkat derajat perempuan.  Tulisannya banyak menyoroti tentang kehidupan perempuan termasuk menolak poligami karena merugikan kehidupan perempuan dan keluarga. Tulisan lainnya pun banyak menyoroti pemerintah Belanda sehingga menjadi seorang yang sangat di benci oleh Belanda.  Akibatnya Rohana tidak di dukung oleh Belanda untuk menjadi tokoh pahlawan nasional layaknya R.A.Kartini. 

Melalui tulisan-tulisannya, Rohana telah membuka mata para perempuan lainnya untuk segera bangkit dari segala keterbatasan dalam mengakses pendidikan agar mampu mengaktualisasikan dirinya.  Terbukti banyak perempuan yang belajar pada sosok seorang Rohana Kudus.   

Bagaimana dengan perempuan masa kini?
Tidak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, sebab seiring perkembangan zaman, telah banyak perempuan yang menempati posisi penting dalam struktur kepemimpinan.  Telah banyak perempuan yang menjadi Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Menteri bahkan Presiden sebagai sebagai lembaga tinggi Negara.  Belum lagi yang menjadi pemimpin perusahaan dan masih banyak lagi profesi lainnya.  Ini semua karena akses pendidikan semakin terbuka lebar secara global untuk perempuan Indonesia.  Saat ini perempuan bisa menimbah ilmu sebanyak-banyaknya sesuai dengan minat dan kemampuannya sehingga perempuan pun semakin cerdas, pintar dan bermartabat serta mampu mengembangan potesi diri yang dimilikinya. 

Sehubungan dengan Rohana Kudus yang seorang jurnalis, pun tidak sulit untuk menemukan perempuan masa kini yang berprofesi sebagai seorang jurnalis.  Misalnya; Najwa Shihab yang sukses menjadi presenter Mata Najwa karena keterampilannya di bidang jurnalistik.  Banyak perempuan yang telah memilih dunia tulis menulis (literasi) untuk berbagi hal-hal positif kepada banyak orang, kepada masyarakat luas.  Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Adinegoro bahwa jurnalistik adalah semacam kepandaian karang mengarang dan memberi pengkabaran  kepada masyarakat dengan selekas-lekasnya  agar tersiar seluas-luasnya.  Penyebaran informasi semakin penting dan semakin gampang di era teknologi sekarang ini.  Perempuan pun semakin berpeluang untuk menuangkan ide-ide kreatifnya.   





Tidak ada komentar:

Posting Komentar