Sabtu, 27 Februari 2016

Guru dan Inspirator

Oleh: Abby Onety

Dalam buku No Rulest! (21 Mitos Besar tentang Sukses) karangan Dan S. Kennedy disebutkan bahwa pendidikan tinggi hanya menyiapkan dua hal. Pertama, menyiapkan pekerjaan lebih baik dibandingkan orang yang tidak berpendidikan tinggi. Kedua, menyiapkan gaji 65% lebih tinngi dibandingkan orang yang tidak berpendidikan tinggi.


Menurut literatur itu pendidikan tinggi tidak menjadikan kaya dan sukses, karena tidak ada mata kuliah menjadi kaya atau mata kuliah menjadi sukses yang ditawarkan perguruan tinngi.
Lalu pertanyaannya apakah pendidikan tinggi tidak penting? Jawabannya sangat penting, karena orang yang berpendidikan tinggi tingkat nalarnya, tingkat analisanya, tingkat penyelesaian masalahnya jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi. 
Pesan yang ingin disampaikan, sekarang faktanya puluhan ribu orang yang berpendidikan tinggi (Sarjana) menganggur. Itu berarti untuk menjadi sukses anak didik tidak sekedar hanya membutuhkan guru yang setiap hari mengajarkan teori-teori akademik, atau kajian-kajian ilmiah, tetapi juga membutuhkan seorang inspirator atau penggerak yang bisa menggerakkan seluruh pancainderanya melakukan restorasi dalam dirinya menuju perbaikan kualitas pribadinya. .


Menyelesaikan persoalan masa depan tidak hanya membutuhkan rumus-rumus ilmiah, tetapi membutuhkan kemampuan dan kecerdasan menggali segala potensi diri. Karena itu seorang pendidik disetiap tingkatan institusi pendidikan harus memiliki kemampuan sebagai inspirator atau penggerak. Hal ini penting, karena hanya seorang inspirator yang memiliki kekuatan memprakarsai atau menghasilkan gerakan.

John Adair, professor pertama di dunia dalam Leadership Studies mengatakan, Seorang guru yang hebat adalah memiliki kekuatan antusiasme yang memacu, menghidupkan, dan menginspirasi, meskipun pelajaran-pelajaran yang diberikannya mungkin dilupakan. Pendapat John Adair ini mengisyaratkan bahwa sejatinya pendidik itu harus juga menjadi inspirator untuk menginspirasi dan menggerakkan anak didiknya melakukan restorasi dalam dirinya.

Itulah sebabnya ketika mengisi data sertifikasi guru di kolom deskripsi diri, saya mendeskripsikan tugas guru terisnprasi dari konsep pemikiran Mr. Lim seorang visoner sejati. Saya lebih tertarik menggunakan istilah pendidik yang mewakili seluruh orang yang berprofesi pengajar di institusi pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Jadi tugas pendidik adalah tidak sekedar mentransfer teori-teori ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, tidak hanya mengkomunikasikan konsep-konsep ilmiah kepada peserta didiknya, tetapi lebih dari itu esensi dari tugas seorang pendidik sejati adalah Meyakinkan dirinya dan meyakinkan seluruh anak didiknya bahwa setelah mengikuti pelajarannya tidak akan menjadi pengangguran. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh seorang guru sekaligus inspirator.


Seorang guru yang sekaligus inspirator harus memahami bahwa setiap mengajar harus ada sesuatu yang baru diberikan kepada anak didiknya yang berkaitan dengan proses menata masa depannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam salah satu Firman Allah dan hadits nabi tentang ilmu berikut ini.
Dan, Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah itu sangat besar. (QS. An-Nisa : 113) Dari Abu Said al-Khudry secara marfu, Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari Kiamat. (H.R. Ibnu Asakir)


Tugas seorang guru sekaligus sebagai inspirator adalah menjadikan anak didik cerdas dalam matra kognitif, afektif dan psikomotorik. Matra kognitif maksudnya menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, matra afektif menjadikan anak didik memiliki sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa/mahasiswa terampil dalam melaksanakan aktivitas secara efektif dan efesien, serta tepat guna.

Dengan demikian, pendidik senantiasa dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan sosialnya. Sehingga bisa melahirkan peserta didik yang berbudi luhur, memiliki kerakter sosial dan profesionalisme. Jadi hukum kesuksesan ini menekankan bahwa untuk menjadi suskes tidak sekedar hanya membutuhkan guru, tetapi juga seorang inspirator yang bisa menggerakkan. Jadilah guru yang mengispirasi, lalu bersiaplah melihat lahirnya generasi emas petarung masa depan.
                   

3 komentar:

  1. Selain IQ, juga butuh EQ dan SQ. Terkadang yang 2 ini yang luput di'ajar'kan guru di sekolah.

    BalasHapus
  2. Benar Bit... meningkatkan IQ memang prioritas tapi EQ dan SQ tak boleh dilupakan. Thanks say...

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus