Sabtu, 29 Agustus 2015

Serumpun Padi


Serumpun padi tumbuh di sawah, hijau menguning daunnya”.  Sepenggal lirik lagu ini sering saya dendangkan bersama teman bermain di area persawahan puluhan tahun silam.   Ada yang masih ingat lagu ini?

Pagi ini, tanpa sengaja aku melihat dan mendengarnya di salah satu stasiun TV.  Hamparan sawah yang terbentang luas menghijau, bulir-bulir padi yang bergerak tak beraturan, melambai tertiup angin sepoi.  Tampak area persawahan itu berhias orang-orangan dengan beragam model, amat menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.  Pemandangan ini sangat identik dengan pedesaan.  Ditambah dengan alunan lagu “Serumpun Padi”, cukup menggugah hati untuk mengenang kembali kampung halaman sekaligus melirik bagaimana kehidupan petani sebagai insan yang berperan utama dalam penyedia pangan di negeri ini.

Ada perasaan aneh yang menggiring hadirnya senyum orang yang berdiri dan terpaku depan TV.  Andaikan saya adalah pemeran dalam film kartun, mungkin kaki ini sudah memanjang sepersekian meter menembus kaca TV. Lalu berjalan diantara rumpun-rumpun  padi dan mencoba menghirup udara segar disekitarnya.  Atau mungkin aku telah berubah wujud menjadi wanita tani dengan kekuatan super hero yang dengan bangganya bisa merubah produktivitas lahan yang kurang produktif menjadi lahan yang bisa menghasilkan produksi pertanian yang berlimpah ruah.  (saat ini kita sedang memasuki DUNIA HAYAAALLL hahahaa....).

Sebenarnya  tak perlu berhayal seperti ini, cukup nyetop pete-pete (angkot) lalu berangkat ke kampung halaman, trus ke sawah, bertani, selesai!.  Simple kan...??.  Tapi, kenyataannya waktu jualah yang membatasi setiap gerak langkah manusia.  Tuntutan pekerjaan menjadi perioritas utama kemungkinan tertundanya setiap rencana mudik sampai  akhirnya tidak kesampaian.  Hal inilah yang kerap kali menjadi alasan sebagian banyak orang untuk menunda pulang kampung saat rindu kampung halaman, saat rindu akan serumpun padi.

Acungan jempol buat stasiun TV yang sering-sering menayangkan kehidupan di desa, terutama kehidupan seorang petani yang berjuang sebagai penyuplai pangan untuk kita semua.   Cobalah kita cermati, bagaimana perjuangan  seorang petani.  Berangkat pagi-pagi bahkan subuh dari rumah berbekal makanan seadanya untuk bekerja seharian di sawah. 

Ada yang tertumbuk dalam pikiranku, entah kenapa petani di desa rata-rata berusia tua.  Kemana petani muda..??.  inilah mungkin yang wajib menjadi PR buat kita semua, Minimnya penghasilan petani, mengharuskan pemuda desa banyak yang hijrah ke ibu kota dan memilih beralih profesi.  Pemuda desa lebih memilih menjadi buruh harian, atau profesi lain diluar dunia pertanian.

Lantas....??? jika petani tua sudah tidak mampu bekerja dan sawah-sawah tidak lagi produktif,  atau lahan pertanian bergeser menjadi bangunan-bangunan yang bertingkat tinggi.  Apakah kita cukup siap untuk bergantung kepada swasembada pangan dari negara lain...? YES......or ......NO
L



5 komentar:

  1. betul kak,,
    sekarang stasiun TV cum arafi ahmad terussss
    rasa mau buang TV hahaha,,
    setuju kak , seandainya misal kalau libur
    para pemuda ke desa bantu petani tua
    daripada pergi balapan atau pergi demo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tontonan tak berkelas xixixiii....
      Miris hati saya melihat petani di kampungku say, blom lagi klo gagal panen. duh kasihan bangaet

      Hapus
  2. Dulu zaman aku kecil (eaaaa) adanya cuman TVRI dan dikasih tayangan pedesaan terus. Acara kuis juga nggak jauh jauh dari Tani, klo nggak salah dulu namanya klompen capir apa ya..... (duh, ketahuan umurnya)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa.. benar mbak. Artinya kita seumuran 😁

      Hapus
    2. Hahahaa.. benar mbak. Artinya kita seumuran 😁

      Hapus