Rabu, 25 Februari 2015

Mimpi Untuk Indonesiaku



Bermimpilah sebelum mimpi itu di larang.  Kalimat ini terkesan lucu tapi mempunyai makna ganda.  Kenapa…? Karena selain menghibur, kita juga dapat mengambil makna positif yang menantang kita untuk bermimpi.  Mimpi yang saya maksud bukan mimpi dalam tidur atau orang sering menyebutnya sebagai “bunga tidur”.  Mimpi yang bisa mendorong seseorang untuk meraih cita-cita atau mewujudkan harapannya menjadi nyata dari sebuah mimpi.  Mimpi dilakukan tentu saja bukan sekedar bermimpi tetapi harus di barengi dengan usaha dan do’a.  Setiap orang punya mimpi dalam kehidupannya.  Bermacam cara yang dilakukan untuk meraih mimpi.  Salah satunya adalah menekuni profesi di bidang masing-masing.    Bukan mustahil untuk mencapai sebuah mimpi di perlukan sejuta pengorbanan sampai tertatih-tatih hingga berdarah-darah.


Anak Indonesia punya banyak mimpi untuk Ibu Pertiwi.  Terbukti dengan banyaknya prestasi yang telah diraih oleh banyak orang.  Lantas…? adakah yang belum punya mimpi? Atau punya mimpi yang belum terealisasi?, don’t worry kawan.  Mari terus bermimpi karena mimpi itu tak punya batas.

Fenomena yang terjadi di Negara kita tercinta saat ini cukup memprihatinkan.  Sebagai seorang yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi, hatiku miris melihat beragam masalah yang mendera indonesiaku.  Salah satunya adalah alam tempat kita berpijak, tempat kita menggantungkan hidup, seakan telah terkoyak oleh keserakahan manusia sebagai faktor pertama pengeksploitasi sumber daya alam.  Tanah pertanian yang terhampar luas nan hijau, kini telah berganti menjadi gedung-gedung tinggi pencakar langit yang oleh sebagian banyak orang digunakan sebagai lahan bisnis yang paling menjanjikan dalam meraup keuntungan pribadi masing-masing. 

Hutan yang kaya akan jenis tumbuhan yang berdiri kokoh sebagai penyanggah bumi, di tebang secara liar tanpa tebang pilih dan di ambil kayunya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Tak banyak lagi taman kota untuk memanjakan masyarakat dalam bersantai di kota sendiri untuk menghirup udara segar dalam kebisingan kota yang penuh dengan polusi udara.  Akibatnya apa? Hutan-hutan semakin tandus, bencana alam dimana-mana,  banyak orang kehilangan tempat tinggal yang mengakibatkan angka kemiskinan semakin meningkat. 
Ohh,,, Tidak Indonesiaku!.  Rasanya saya tak tega membiarkan hal ini  berlangsung lama.  Indonesiaku harus kembali hijau.  Itulah tekadku sekaligus mimpiku untuk tanah air beta.  Mari menyisipkan kata “cintailah lingkunganmu” kepada setiap orang di sekitar kita, sebagai salah satu bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap alam sekitar.

Tak ada alasan untuk tidak mencintai lingkungan, sebab alam telah banyak berjasa memberikan manfaat terhadap proses kelangsungan hidup manusia.  Apakah manusia harus membalasnya dengan cara eksploitasi?.  Tidak!.  Manusia dengan akal sehatnya harus mampu melestarikan kekayaan alam yang dimiliki.  Banyak tumbuhan maupun hewan yang sudah hampir punah.  Manusia dituntut untuk bisa menjaga dan melestarikannya.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan.  Misalnya Mencintai tanaman dengan cara merawatnya.  Menanam pohon pada lahan-lahan yang gundul.  Intens berkampanye secara gratis melalui panggilan jiwa untuk memberikan pemahaman kepada setiap orang agar mencintai lingkunganya

Masalah banjir dapat kita lakukan dengan penanganan dini.  Hal yang paling mudah dilakukan adalah menjaga kebersihan dengan memungut sampah dan buang pada tempatnya.  Banyaknya sampah yang berserakan, selain memicu terjadinya banjir juga sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.  Sanitasi yang tidak terjaga akan mudah mendatangkan wabah penyakit yang berbahaya.  Dampak yang ditimbulkan dari terjangkitnya penyakit adalah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan dan pemulihan kesehatan.

Pemerintah seharusnya mampu memilah dan tidak gampang-gmpang amat memberikan peluang perizinana mendirikan bangunan pada lahan -lahan produktif  untuk  dijadikan  area bisnis bagi para pemasok saham. 

Saya tak yakin jika hal tersebut diatas  tidak direalisasikan secara bersama-sama, maka kemungkinan besar anak cucu kita kelak tidak akan menjumpai Tanah Air yang hijau dengan aneka ragam tumbuhan dan hewan.  Mereka hanya mampu menikmatinya dalam sebuah sejarah yang menggambarkan bagaimana Indonesia di masa lalu yang sangat subur dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. 

Untuk itu, sekali lagi saya mengajak kepada anda semua untuk mencintai lingkungan.  Mencintai saja rasanya tidak cukup tanpa di barengi dengan tindakan yang nyata bagi lingkungan sekitar.  Merawatnya, melestarikannya, adalah hal yang sangat pantas untuk kita lakukan demi cita-cita Ibu Pertiwi.  Jangan biarkan air mata Ibu Pertiwi selalu tumpah akibat kelalaian manusia yang tidak bertanggungjawab.  Mari mengukir senyuman di bibir Ibu Pertiwi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar