Selasa, 12 Agustus 2014

Solo Traveling 2 (Bagian 2)

Hari Pertama
(Jumat, 20 Juni 2014)

Menginjakkan kaki di pelataran Kuala Lumpur International Airport terasa ada yang berbeda dari sebelumnya.  Rupanya aku di sambut dengan kehadiran bandara baru.  Nama bandara baru ini hanya mengalami penambahan satu angka dari bandara sebelumnya.  Yaitu angka 2 dari nama  KLIA menjadi KLIA2.  Aku merasa KLIA2 memberiku banyak kemudahan dan kenyamanan dari yang sebelumnya.


Bandara lama (KLIA) masih digunakan khusus untuk penerbangan  MAS dan hubungan luar negara.  Tetapi bukan penerbangan yang  murah.  KLIA2 khusus untuk pesawat tambang murah seperti LCCT  (Low Coas Carrier Terminal)  yang dulunya di tutup dan digunakan buat penerbangan umrah dan haji di samping urusan kargo.

Karena tiba malam, maka aku memilih menginap di hotel dekat bandara yaitu daerah Sepang, agar memudahkan perjalananku besok pagi menuju Skudai, Johor Bahru.  Saran:  jika dari bandara akan menuju Johor Bahru, urungkan niat ke kota KL terlebih dahulu karena itu sama saja membuang waktu perjalanan bolak balik dengan rute highaway.

Saatnya cek in hotel.  Aku berjalan menuju meja resepsion.  Seorang wanita muda dengan logat melayu melayani aku dengan baik.  Postur tubuhnya hampir setinggi dan semanis pramugari di pesawat tadi.  Hanya saja pakaiannya terlihat lebih sopan dengan balutan kain batik khas Malaysia.  Aku mengeluarkan selembar kertas tanda bukti pemesanan kamar hotel via online “Agoda” (thanks for Agoda) dan menyodorkan kepada Aisyah, si wanita resepsionis.  Aku mengenal namanya bukan karena kami berkenalan dan saling tukar nama, tetapi aku mendengar seorang temannya memanggil dia  “Aisyah”.

Kini, travel bag di tanganku berpindah tangan kepada seorang pemuda yang ku yakini berkebangsaan India.  Badannya tinggi, besar dan ada bulu-bulu halus di sekitar dagunya.  Aku yakin dia bukan Syahrunk Khan,  tampangnya  sangat jauh berbeda.  Tetapi, anggukan kepala ke arah samping yang yang terkesan refleks sempat membuatku bertanya dalam hati, “apa ada yang salah dengan urat lehernya ya?”,  aku yakin bahwa lelaki itu satu ras dengan aktor pujaanku.  Setelah menyelipkan lembaran Ringgit ke dalam kantong bajunya, lagi-lagi dia mengangguk kearah samping .  Sambil tersenyum diapun berlalu.  Akupun tersenyum karena terlihat lucu dengan gaya refleks lehernya ke arah samping.

Kamar 402 terasa nyaman.  Dengan memanfaatkan fasilitas kamar,  aku langsung merebahkan badan  sejenak sebelum  hangatnya semburan air menyiramku, yang mengucur dari shower dengan merk yang tak ku kenali.  Ahaa..., kini terasa lebih fresh.  Dengan dandanan seadanya dilengkapi T-sirt  paduan celana Jeans aku bergegas menuju loby hotel. Duduk sejenak sambil menunggu Aisyah membuatkan peta sederhana dengan coretan asli jemarinya yang halus, sedikit melebihi halus jemari  orang di hadapannya.

Berbekal peta dari Aisyah, aku menyusuri kota Sepang berburu makan malam. Aku memilih Tom Yam sebagai menu makan malamku.  Setelah mengisi kampung tengah aku kembali menyusuri daerah sekitar sepang   Disana sana-sini terlihat bangunan tinggi dengan kerlap kerlip cahaya lampu yang menghiasi dan menambah keseksian malam kota ini.   Diantara tempat-tempat menarik di sekitar Sepang adalah Pantai Morib, F1 Circuit, Institut Canser Negara, Universiti Sains Islam Malaysia dan beberapa universiti  lainnya.  Puas menyusuri kota Sepang, aku balik ke hotel untuk beristirahat.  Setelah KLIA2 dan Mie Tom Yam, beristirahat di hotel adalah kenyamanan  selanjutnya yang kurasakan. Membawa aku ke alam mimpi yang maha dahsyat.


Hari Kedua
(Sabtu, 21 Juni 2014)

Sesuai dengan target awal, hal  pertama yang harus kulakukan adalah berkunjung ke Universiti Teknologi Malaysia.  Pagi ini, sebelum jarum jam menunjukkan angka 9,  aku bergerak menuju resepsion hotel untuk cek out.  Aku tersenyum manis yang kedua kalinya kepada orang di sampingku.  Setelah memastikan semua barang sudah oke dibagasi mobil, saatnya mencari sarapan setelah kampung tengah berbahasa chenese minta haknya.  Aku memilih roti chanai dan segelas teh manis hangat (orang setempat menyebutnya Teh O) didaerah sepang sebelum melaju di highaway menuju Johor Bahru.  Saran: jika anda ingin minum teh saja, maka anda harus memesannya dengan kata  Teh O (di baca Te’o).  Karena jika anda memesan teh saja tanpa O biasanya yang terhidang adalah teh susu hikz....

Sepang – Johor Bahru di tempuh dengan waktu perjalanan kurang lebih 4 jam dengan kecepatan 120 menit/jam.  Melintasi highaway, mataku tak pernah lepas dari papan penunjuk arah jalan dan keterangan tempat.  Rute perjalanan di mulai dari Sepang menuju  selangor lalu melintas di daerah Seremban Negeri Sembilan hingga menuju Melaka sampai ke Johor Bahru.  Aku menikmati keindahan alam di sepanjang perjalanan.  Ini kali kedua aku melewati jalan ini, setelah 4 bulan yang lalu aku menuju Singapore via Johor Bahru.  Aku juga melihat arah jalan yang berbeda menuju Genting Highlands,  sebuah destinasi yang pernah aku kunjungi beberapa waktu lalu.  Bibirku tersenyum, rongga dadaku terasa mengembang, tulang rusukku berkontraksi, kemudian berelaksasi.  Pertanda aku telah membuang nafas lega kala melewati kembali tempat yang pernah aku kunjungi.  Aku percaya bahwa setiap perjalanan ada kepingan kenangan yang tertinggal di sana.

Aku mengalihkan pandangan,  jauh diatas sana terlihat pelangi nyasar.   Ataukah hanya mataku yg salah menangkap cahaya? Entahlah.  Hanya sekilas aku melihatnya.  Sambil mengusap mata, aku melihat satu tempat yang aneh bagiku.  Sebuah jalan mirip play over atau sejenis jembatan penyeberangan tetapi bagian tengahnya beratap.  Makin laju kecepatan mobil, tempat itu semakin jelas kelihatan.  Orang di sebelahku memperjelas bahwa tempat itu adalah tempat makan.  Lucu,  baru kali ini aku melihat tempat makan dengan desain seperti itu.  Sebuah tempat makan yang di desain di atas jalan Tol yang menyerupai play over.  Aku tak berniat untuk singgah karena di depan sana ada beberapa tempat rehat yang akan di lalui, diantaranya Pagoh, Yong Peng, dan Machap.  Di tempat ini di sajikan beberapa macam makanan dari berbagai suku dan negara.  Juga tersedia fasilitas Ibadah dan Toilet yang cukup nyaman.  Dan...... aku memilih untuk rehat di Pagoh.

(Bersambung .........)
Tunggu Solo Traveling 2 ( Bagian 3 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar