Sabtu, 05 Juli 2014

Solo Traveling 2 (Bagian-1)


Aku hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk packing.  Tak ada persiapan yang istimewa untuk perjalanan kali ini.  Beberapa jam sebelum berangkat,  aku cukup membuka lemari lalu mengambil beberapa barang yang dianggap penting untuk digunakan selama dalam perjalanan.  You C1000  rasa orange dan white coffee grande minuman favoritku sudah lebih dulu masuk dalam koper.   Aku tak mau kelimpungan yang kedua kalinya di Negeri Jiran hanya untuk mencari kedua jenis minuman ini. 

Bus Bandara adalah transportasi pilihanku untuk menuju Sultan Hasanuddin Airport.  Aku berpikir tak ada salahnya aku mencoba fasilitas Pemerintah Kota Makassar. Selama ini, aku hanya mendengar  dari mulut ke mulut, bahwa salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Kota Makassar  terhadap masyarakatnya adalah memberikan fasilitas transportasi yang cukup nyaman  dengan harga terjangkau.  Benar saja,  jarak tempuh 35 menit dari  jl Ahmad Yani ke Sultan Hasanuddin Airport  cukup memaksimalkan waktu dan memberikan kenyamanan dengan beberapa fasilitas dalam  bus. Salah satunya adalah fasilitas AC.  Dan.... aku menikmatinya.  

Sebelumnya, aku menunggu bus bandara di depan KarLink (Karebosi Link).  Sebuah Mall bawah tanah, tepatnya di bawah lapangan karebosi.  Masih segar dalam ingatanku tentang asal muasal kehadiran Mall ini.  Mall ini hadir setelah  revitalisasi lapangan Karebosi yang  sebelumnya menuai banyak kontoversi.  (kok jadi bahas soal revitalisasi Karebosi hihihiii.....tinggalkan aja ya?).  10 menit berlalu,  bus nya tak kunjung datang.  Aku bertanya pada security mall, jawaban security  menuntunku berjalan menuju jl Riburane,  tepatnya di ujung jl Ahmad Yani depan RRI (Radio Republik Indonesia).  Dengan menarik travel bag di tengah teriknya matahari dan padatnya kendaraan,  akhirnya aku sampai ke halte bus bandara.  Pas di pertigaan jalan antara jl Nusantara, Rotterdam dan Ahmad Yani terdapat halte pemberhentian bus khusus bus bandara. 

Dua orang penumpang sudah lebih dulu berada di halte itu.  Aku mengangguk seraya tersenyum kepada calon penumpang tersebut.   Senyum dan anggukan itu, pertanda bahwa aku juga punya tujuan yang sama dengannya setelah melihat travel bag bawaannya.  Sambil mengusap peluh, aku mengeluarkan parfum sun flower andalanku seraya memiringkan sedikit badan agar tidak terlihat oleh orang lain kalau aku sedang memakai parfum. Ciss....cisss...cissss...., cukup 3 kali semprotan pada bagian tubuh depan membuatku sedikit fresh.  Hhhmm.... sebenarnya sasaran semprotan parfum satu kali di depan, satu kali di samping kiri dan satu kali di samping kanan. Tapi.... karena malu dilihat orang, yaahh....cukup bagian depan aja.

Karena aku menyukai posisi pojok, akupun mengambil posisi tempat duduk di halte yang paling pojok.  Aku menyukai posisi pojok bukan karena aku sering terpojok.  Tidak ! (sedikit pembelaan),  itu karena aku sering menata ruangan pojok agar terlihat lebih unik, indah, dan elegant.  Bahkan  warung pojok sering menjadi sasaran di saat kampung tengah merasa terpojok menuntut haknya.  Ataukah mungkin karena jl  Dago Pojok di bandung selalu terpatri dalam kenangan.  

Akh....,  15 menit berlalu, bus nya datang membuyarkan lamunanku.  Orang yang bertopi merah dan duduk diatas becak memberikan keterangan gratis bahwa bus bandara akan tiba di halte yang sama setiap 15 menit.  Lagi-lagi aku hanya mengangguk.  Tanpa basa basi lagi,  buru-buru aku angkat tasku ke atas bus, aku merasa seperti kenek bus yang paling cantik saat itu.  Tidak peduli apakah bus nya masih lama berhenti atau tidak.  Di pikirannku hanya satu, aku ingin duduk di kursi yang empuk menikmati AC dan menghilangkan kepenatan.  Aku senang, akhirnya aku dapat menikmati fasilitas Pemkot.

Baru saja hendak membuang diri di kursi yang empuk, aku terlonjak kaget. ”Hooooiiii”, seruku dengan muka judes. Jika saja ada meteran, mungkin saat itu bibirku monyong 5 cm pertanda kesel.  Jantungku hampir copot rasanya.  Seorang bule berperawakan berewok mengagetkanku.  Sejengkal saja mata birunya menyentuh ujung hidungku,  hanya untuk menanyakan apakah bus ini akan menuju bandara  (ya iyalah masa ke langit).  Pe’a lo!  (Pe’a = Pendek Akal) gumamku dalam hati.  Aku bisa merasakan bau sengatan matahari dari tubuhnya yang memaksa diriku mundur 3 langkah ke belakang seraya mengangguk.  Si bule minta maaf.

Bus bergerak menuju jl Nusantara.  Menyusuri pelabuhan Soekarno-Hatta sampai akhirnya masuk ke jalan tol.  Untuk rute perjalanan sampai ke pintu pelepasan bandara hanya merogoh kocek Rp. 25.000.  Lumayan hemat 175.000 karena jarak tempuh menggunakan transportasi berupa taksi bisa sampai  Rp. 200.000,  belum lagi kalau macet.  Untuk transportasi ini, jangan khawatir soal kemacetan karena tarifnya tetap Rp. 25.000.  Tidak naik!.  Satu lagi jempol buat PEMKOT Makassar J (senangnya).

Waktunya Boarding.  Seorang wanita separuh baya ditemani seorang anak muda menyapaku.  “anak mau kemana”? ke Kuala Lumpur bu “ jawabku dengan senyum yg ku buat manis setelah melihat paspor ibu itu berwarna merah.  Aku yakin bahwa tujuan aku ke negara yang sama. Itulah sebabnya mengapa senyumku ku buat lebih manis sampai akhirnya senyumku menjadi betul-betul manis karena keikhlasan dan ketulusan untuk seorang Ibu. (wkkwkwk....).  aku percaya bahwa sesuatu yang di kerjakan dengan ikhlas akan memberikan aura tersendiri apalagi untuk sebuah senyuman.  Bukankah senyuman itu juga sedekah? Asal jangan tersenyum pada tiang listrik!.  Urusannya bisa sampai ke rumah sakit jiwa.

Rupanya anak muda itu hanya mengantar ibunya.  Setelah menitipkan ibunya padaku, dia cium tangan dan cipika cipiki.  Kepadaku, dia hanya jabat tangan.  Tidak pakai cium, hikz....(ya jelaslah.... gak mungkin cipika cipiki juga, gee’eer amat sih akunya hihihiii.....andaikan.... akupun pasti menolak).  Anak muda itupun pamit pulang yang sebelumnya menyisipkan sebagian barang ibunya ke dalam koperku karena kelebihan bagasi (tentu saja dengan seizin aku).

It’s okay.   Akupun mengajak ibu hapsah ke ruang tunggu.  Tas tentengan ibu hapsah berpindah ke tanganku.  Aku  membantunya membawa tas yang mungkin saja berisi ole2 yang berharga karena tidak di bagasikan. Diruang tunggu, ibu hapsah banyak bercerita tentang keluarganya.   Tentang ibunya yang baru saja meninggal.  Tentang paspornya yang kini sudah berwarna merah.  Bu hapsah telah berganti kewarganegaraan dari Indonesia menjadi Malaysia.  Lebih dari 50 tahun hidup di negara Malaysia cukup memberikan solusi dengan beberapa pertimbangan untuk berganti kewarganagaraan.   Ibu hapsah menawari aku tinggal dirumahnya.  Katanya, agar uangku tidak terbuang percuma buat sewa hotel.  Hhmm....  makasih ibu.  Hhhmm....., ternyata masih banyak orang-orang yang baik di sekitar kita yaa..???.  Tanpa disadari, kadang-kadang orang baik hadir di tengah-tengah kita.   Orang yang baik, bukan hanya orang yang selalu memberikan sesuatu berupa benda.  Tetapi, akan selalu mengkhawatirkanmu, memberimu perhatian, menjagamu dan memberimu  semangat serta nasehat tanpa mengharapkan imbalan apapun darimu. 

Time to take off!.  Para penumpang pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK 331 diharapkan naik ke pesawat melalui pintu 1.  Demikian suara merdu seorang perempuan  yang terdengar dari ruang informasi.  Di pesawat aku berpisah 5 sap kursi kebelakang dari bu Hapsah.  Setelah memastikan bu Hapsah duduk di tempat yang benar dan berpesan kalau butuh sesuatu panggil aku di kursi 5a depan sana (sambil menunjuk ke tempat dudukku).  Penerbangan ini akan ditempuh dengan waktu 3 jam 25 menit.  Sudah terbayang bagaimana aku melewatkan  waktu tanpa aktivitas.  Aku membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku dan gadget yang tentu saja sudah dalam keadaan mode terbang, untuk menemaniku dalam perjalanan.  Semoga buku ini bisa menginspirasi perjalananku.  Yuhuii..... i’m flying in the sky .....

(Bersambung .........)
Tunggu Solo Traveling 2 ( Bagian 2 )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar