Senin, 09 Juni 2014

Menulis dan Menembus Penerbit




Diskusi kali ini di JUKU Wisma Kalla bersama Windy Ariestanty.  Seorang penulis yang kaya akan imajinasi dengan ide-ide cemerlangnya telah menghipnotis  kami beberapa hari yang lalu dalam acara Makassar International Writers Festival (MIWF).  Windy Ariestanty beberapa kali mengisi acara pada even tersebut, diantaranya adalah Meet The Publishers, Travel beyond destinations and how to craft your travel stories dll.

MIWF berlangsung dari tanggal 4 s/d 7 Juni 2014.  Tetapi, pada hari sabtu malam 7 mei 2014 saat sedang membuka salah satu media sosial (Twitter) secara tidak sengaja mendapat informasi bahwa Windy Ariestanty akan berada di JUKU wisma kalla dan menyempatkan diri berdiskusi dengan kami penggemarnya J (Cieee.... colek2 Windy) sebelum menuju Sultan Hasanuddin Airport.   Spontan aku mention@AkberMKS sebagai sumber berita. 

Esoknya tanpa menunggu konfirmasi balik dari @AkberMKS aku langsung tancap gas ke wisma kalla.  Tepat pada pukul 13.20 Windy muncul dengan gaya khasnya yang selalu SMART.  Sebuah travel bag ditangan kanannya  serta sebuah kardus yang sudah bisa di tebak isinya (pasti ole-ole khas makassar, maaaf klo salah J ).  Dengan senyum ramahnya windy menyapa kami.  Yaahh.... tentu saja kami balas sapaannya dong dengan senyum yang tak kalah ramahnya (hiihihii....). 

Akhirnya diskusi dimulai dengan presentasi dari Windy tentang “Menulis dan Menembus Penerbit”.  Windy mengawali presentasi dengan memberikan stimulan berupa pertanyaan dasar kepada peserta.  Misalnya  apa tujuan anda menulis, apa yang melatarbelakangi anda menulis dll.  Menurutnya jika ingin menjadi penulis maka menulis, menulis dan menulislah.  Menulis bisa dilakukan dimana saja.  Dimanapun anda mendapatkan ide-ide kecil tulislah pada secarik kertas kecil dan simpan dalam lipatan dompet.  Suatu saat saat catatan kecil itu bisa anda kembangkan untuk sebuah cerita yang menarik dan bisa dibaca oleh banyak orang. 

Windy juga banyak memberikan gambaran  bagaimana penulis yang baik karena materi yang diberikan lebih mengarah kepada hubungan antara penulis dan penerbit.  Seorang penulis yang baik dan santun tidak akan memberikan naskahnya kepada beberapa penerbit lain tanpa ada pemberitahuan kepada penerbit yang telah menerima naskahnya untuk di seleksi di meja editor.  Kesabaran sangat disarankan kepada penulis untuk menunggu konfirmasi dari penerbit berkaitan dengan naskah-naskah yang telah terkirim.  Hubungan baik antara penulis dan penerbit perlu terjaga.

Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam hal pengiriman naskah:
1.     Naskah diketik rapih
Sekalipun tulisan tangan cantik dan rapih, itu tidak disarankan untuk pengiriman naskah tulis tangan ke penerbit (hihihii.....sungguh terlalu).  Manfaatkanlah teknologi yang ada karena tulisan tangan bisa saja tidak dimengerti oleh sang editor.  Jadi, disarankan untuk mengetik rapih naskahnya untuk dikirim ke penerbit
2.      Lampirkan sinopsis
Jangan sampai sang editor bosan membaca sinopsis yang sampai 8 lembar hehee... karena itu bukan sinopsis.  Buatlah sinopsis yang ringkas tetapi mencakup keseluruhan cerita.
3.      Berikan beberapa alasan mengapa naskah itu harus terbit
Anda bisa memberikan alasan yang tepat dengan cara menggambarkan beberapa keunggulan naskah anda dibandingkan dengan beberapa buku yang pernah anda baca. 



4.      Naskah dikemas rapih
Buatlah naskah anda secantik mungkin untuk menarik perhatian sang editor.  Mungkin bisa diberikan aksesoris sebagai pembeda dengan naskah yang lain. Tapi ingat... jangan norak xixixii....
5.      Jangan lupa mencantumkan Nama, Alamat, Nomor HP dll sebagai identitas anda untuk mempermudah penerbit menghubungi anda jika naskah anda terpilih untuk di publish (Punna Upa = jika beruntung hahaaa...)
6.      Buatlah judul
Waduh..... gimana ya, kalau tulisan tanpa judul? Atau pengen ngikut salah satu lagunya iwan fals “belum ada judul”? kalau lagu sih mungkin saja, tetapi dalam pengiriman naskah sangat tidak di sarankan. Ingat, jangan lupa buat judulnya.
7.      Telponlah editor pada saat yang tepat
Jangan menelpon sang editor pada saat sedang sibuk atau lagi meeting, saya pastikan anda bakal kena semprot (maaf canda).  Jagalah hubungan yang baik dengan editor. Buatlah suasana senyaman mungkin untuk bisa mengobrol dengan editor. Sms sebelum menelpon untuk membuat janji jam berapa bisa menelpon. mungkin ini adalah solusi yang baik dan santun.

Hanya ini yang bisa saya share kepada teman-teman, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Windy Ariestanty atas transformasi ilmunya tentang kiat-kiat menulis sehingga tulisan ini bisa saya buat.  Walaupun pada saat ingin mempublish tulisan ini di media sosial perlu pertarungan rasa antara PeDe dan MaLu hahahaa.... (sambil tutup muka dengan sebelah telapak tangan karena tangan yang satunya lagi sedang menari di keybord laptop, xixixii....). Windy....JanganKI lupaKI Makassar KODONG! Nah J
Terima kasih kepada adek-adek panitia MIWF, sungguh...!!!! acaranya Mantapp bangat!!
Salam Sukses untuk SEMUA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar