Minggu, 15 Juni 2014

“Bapak, Engkau adalah Guru dari Seorang Guru”



Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bapak.... apa kabar? Harapanku semoga Bapak serta seluruh keluarga dalam kondisi sehat. Amin.  Aku di sini baik-baik saja.  Sebenarnya aku ingin pulang, bercerita satu hal seperti hari-hari kemarin dengan topik yang berbeda.  Tapi, kali ini kondisi tak memungkinkan untuk pulang.


Bapak.., aku teringat masa kecilku, sering ikut Bapak ke sekolah.  Saat itu aku duduk manis di boncengan sepeda Bapak yang berwarna biru.  Memasuki halaman sekolah, siswa Bapak datang mengambil sepeda Bapak tanpa perintah dan membawanya ke parkiran di samping kantin sekolah. 

Tahukah Bapak?  bahwa sambil bermain sendirian, aku mengamati seluruh gerak gerik Bapak selama proses belajar mengajar di kelas berlangsung?.  Ingatkah Bapak?  sebelum memulai pelajaran saat itu, Bapak setengah mati mencari kacamata yang sedang Bapak pakai? Hehehe.... Saat itu kelas Bapak riuh oleh gelak tawa seluruh siswa di kelas.  Akupun ikut tertawa.  Bapak langsung berdiri tegak, sekali ucapan dengan sedikit nada tinggi,  seluruh siswa tiba-tiba terdiam.  Wah... jempol buat Bapak.  Aku juga melihat bagaimana Bapak  di hormati oleh anak didik.  Bagaimana anak didik dengan santun mengikuti seluruh aturan dalam tata kedisiplinan di kelas.  Itulah alasan utama mengapa aku memilih guru sebagai profesiku.

Tapi Bapak..., apa yang aku lihat saat itu, sangat jauh berbeda dengan fenomena di sekolah saat ini.  Aku tahu, hubungan baik yang terbina  antara guru dengan siswa pada zaman Bapak dan zaman aku sekarang ini berbeda.  Zaman yang semakin modern dan teknologi yang semakin berkembang pesat adalah salah satu faktor perubahan itu.  Etika dan moral sebagian siswa sungguh sangat membebani pikiranku. Tapi.... aku janji Bapak, aku akan bekerja keras untuk itu. Seperti yang Bapak lakukan dulu.  Seperti yang Bapak sering ajarkan padaku.

Bapak...., beberapa hari yang lalu seorang siswaku berhasil menjadi juara 1 pada salah satu lomba.  Aku mendengar orang berkata  “ oh, itu wajar, siapa dulu dong orang tuanya”. Trus, tahun lalu, ada siswa yang tidak berhasil lolos dalam Ujian Nasional.  Aku pun mendengar orang berkata “ akh, itu karena gurunya yang tidak profesional mengajar”.  Ternyata benar kata Bapak bahwa memilih profesi guru tidaklah mudah dan sangat membutuhkan  kesabaran ekstra. 

Bapak...., engkau  adalah guruku.  Terima kasih telah mengajari aku banyak hal.  Pahit manis kehidupan yang pernah terlewati bersama Bapak, telah berakar dalam jiwaku.  Sikap tegas dalam bertindak, disiplin dalam berbuat dan penuh cinta kasih dalam hubungan antar sesama,  menjadi wujud  bagaimana Bapak  berperan sangat  kuat dalam pertumbuhan karakterku.  Inilah yang menjadi bagian bagaimana aku bersikap dan menyikapi kehidupan dalam lingkungan kerja dan lingkungan bermasyarakat yang fluralistik.

Oh yaa.... aku titip salam buat lelaki hebat yang Bapak idolakan.  Apa foto Ki Hajar Dewantara  masih terpampang gagah dalam kamar Bapak? Hehehee.... salam sayang penuh cinta untukmu BAPAK ku yang hebat.
“Happy Father’s Day”

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, 15 Juni 2014
Abby Onety 

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba 
SURAT UNTUK BAPAK TERCINTA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar