Senin, 28 April 2014

Polisi Gadungan Mengatur Lalu Lintas

      
Beberapa bulan yang lalu, aku di buat penasaran dengan seseorang. Rasa keingintahuanku tentang dia semakin menjadi setelah hampir setiap hari aku melihatnya di tempat yang sama. Pertama kali melihatnya terasa ada yang aneh, gerak geriknya menunjukkan tanda-tanda adanya kekurangan mental walau secara fisik dia normal. Setelah beberapa kali melihatnya, aku mulai tersenyum padanya. Senyum yang ku lempar kadang-kadang dibalasnya dengan sorot mata kebingungan. Jika boleh jujur, awalnya aku takut tapi setelah sadar bahwa apa yang dilakukannya masih dalam koridor kewajaran, rasa takut mulai berkurang sedikit demi sedikit. Hilangnya rasa takut bukan berarti aku tidak waspada (hehehee...).

Aku tertarik menulis tentang dia, bukan karena ingin menggambarkan kekurangan yang dia miliki. Keterbatasan mental yang dimilikinya justru membawanya melakukan hal yang positif seperti yang kugambarkan dalam catatan kecil ini. Anggaplah ini sebagai bentuk kepedulian dan support sebagai pengguna jalan yang merasa telah diuntungkan atas kehadirannya, atas apa yang telah dilakukannya, di jalan yang setiap hari aku lewati. Karena aku sadar, menyampaikan support secara langsung adalah pekerjaan yang sia-sia karena dia tidak akan mengerti. Dia hanya mengerti bagaimana mengatur pengendara di lampu merah agar tidak terjadi kemacetan.

Dia berseragam layaknya satlantas walau tidak rapih sebagaimana layaknya satlantas sungguhan. Tapi pakaiannya masih terlihat sopan. Di bawah lampu merah jalan malino rutinitasnya. Kadang memakai topi kadang juga tidak. Mengatur lalu lintas secara sukarela, tanpa perintah dan tanpa larangan. Tidak peduli cengkeraman sinar matahari membakar kulitnya yang semakin hari semakin kecoklatan. Begitupun jika sedang hujan. Dia tetap berada di tengah keramaian kendaraan untuk mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan. Kadang-kadang dia terlihat marah jika ada pengguna jalan yang tidak mematuhi aturan lampu lalu lintas. Selain itu, dia juga sering ceramah ttg pentingnya mematuhi aturan lalu lintas jalan saat lampu merah sedang memyala. Ibarat seorang abdi negara yang telah mendedikasikan diri atas sumpah jabatan yang pernah diucapkan.

Sebenarnya telah lama aku ingin mengambil gambarnya melalui ponselku tapi takut dia marah. Keterbatasan waktu dan posisi yang kurang pas untuk pengambilan gambar saat berada di lampu merah membuatku kesulitan membidiknya. Selain itu, lampu hijau saat melewati jalan malino memberiku signal bahwa pengguna jalan tidak boleh berhenti apalagi untuk mengambil gambar. Nah, hari ini sepulang kantor dia masih terlihat berada di tempat yang sama seperti tadi pagi. Astagaaaa.... ini berarti, aktivitasnya dari pagi sampai sore dan itu setiap hari ckckckck.....

Setelah melihat situasi dan kondisi saat itu, aku berpikir inilah kesempatan aku membidiknya dengan kamera ponsel. Dia melihatku, tak ku sia-siakan kesempatan ini. Refleks aku memberikan signal bahwa aku ingin mengambil gambarnya dengan menunjukkan ponselku. Alhamdulillah dia tersenyum, aku tak mengerti arti senyumnya yang jelas  ini pertanda baik, pikirku. Rupanya dia mengerti atau mungkin dia juga gifo (gila foto hahahaa...). Tanpa sepatah kata, hanya dengan bahasa tubuh aku menyuruhnya untuk hormat dengan memberikan contoh dan dia mengikutinya. Ahai....."KLIK"..... berhasil, raut wajahnya mengisyaratkan kegembiraan. Rupanya dia menganggap aku telah melakukan sesuatu yang berharga baginya. Dia bertanya "ibu mau belok kiri atau belok kanan?" aku bilang kiri. Sok pahlawan dia meminta kepada pengendara yang lain untuk memberiku jalan. Tapi aneh.... dia mengarahkan aku belok ke kanan. Waahh...Paraaaaahhh.....!!

Dia adalah seorang polisi gadungan yang berbeda dengan polisi gadungan yang lainnya. Bedanya adalah dia tidak punya modus apa-apa yang membuat dirinya meraup keuntungan. Dia adalah polisi gadungan yang bernilai positif, punya nilai plus, disenangi oleh banyak orang terutama para pengguna jalan di sekitar area jalan malino. Keterbelakangan mental yang dimilikinya tidak harus membuatnya tersisih dari orang lain. Tapi dia malah bersahabat dengan banyak orang dari apa yang telah dilakukannya yaitu mengatur laku lintas.

Gambaran diatas mungkin bisa menjadi renungan buat kita semua. Kalau saja seorang yang mempunyai keterbelakangan mental bisa melakukan hal-hal yang berguna untuk orangbbanyak, kenapa kita tidak????

.Catatan:
# Sampai saat catatan ini kutulis, aku belum berani bertegus sapa sehingga namanyapun aku blom tau hikz....
# Karena signal bermasalah maka fotonya blom bisa ter-upload nih malam. Fotonya nyusul yaa.... xixixiiii.....


AO/28-04-2014
Sungguminasa

inilah foto si polisi gadungan yang baik hati

1 komentar:

  1. hehehee,ibu sangking penasaranya dgn polisi itu....ibu memotretnya...

    BalasHapus